Rabu, 17 Desember 2008
Amal yang Tetap Bermakna
Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna. Karena aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya adalah urusan duniawi. Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan, meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan ALLOH datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuannya bersenang-senangnya bersama ALLOH malah menghilang.
Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja ibadahnya jadi meningkat, shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusu, tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dalam ber-taqarrub kepada ALLOH sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.
Ketika berwudhu, misalnya, ternyata disamping ada seorang ulama yang cukup terkenal dan disegani, wudhu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan. Lain lagi ketika tidak ada siapa pun yang melihat, wudhu kitapun kembali dilakukan dengan seadanya dan lebih dipercepat.
Atau ketika menjadi imam shalat, bacaan Quran kita kadangkala digetar-getarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita menjadi kilat, padat, dan cepat. Kalau shalat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan lebih bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu dibalik ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat amal-amal yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya ketika diberi kesenangan, maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.
Hal ini berbeda dengan hamba-hamba-Nya yang telah menggapai maqam ikhlas, maqam dimana seorang hamba mampu beribadah secara istiqamah dan terus-menerus berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan ALLOH. Sedangkan ketika diberi kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan bersyukur lagi atas nikmat-Nya ini.
Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikannya adalah sama saja. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus ketika ada orang lain memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut dihormati dan disegani.
Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas ini. Betapa tidak? Orang-orang yang ikhlas akan senantiasa dianugerahi pahala, bahkan bagi orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan berubah jadi pahala amalan sunah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang bagus.
Maka, bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada ALLOH saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, "Bismilahirrahmanirrahiim, ya ALLOH semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan". Lisannya yang bening senantiasa memuji ALLOH atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada ALLOH.
Karena banyak pula orang yang melakukan aktivitas duduk, namun tidak mendapatkan pertambahan nilai apapun, selain menaruh [maaf!] pantat di kursi. Tidak usah heran bila suatu saat ALLOH memberi peringatan dengan sakit ambaien atau bisul, sekedar kenang-kenangan bahwa aktivitas duduk adalah anugerah nikmat yang ALLOH karuniakan kepada kita.
Begitupun ketika makan, sempurnakan niat dalam hati, sebab sudah seharusnya di lubuk hati yang paling dalam kita meyakini bahwa ALLOH-lah yang memberi makan tiap hari, tiada satu hari pun yang luput dari limpahan curahan nikmatnya.
Kalau membeli sesuatu, perhitungkan juga bahwa apa yang dibeli diniatkan karena ALLOH. Ketika membeli kendaraan, niatkan karena ALLOH. Karena menurut Rasulullah SAW, kendaraan itu ada tiga jenis, 1) Kendaraan untuk ALLOH, 2) Kendaraan untuk setan, 3) Kendaraan untuk dirinya sendiri. Apa cirinya? Kalau niatnya benar, dipakai untuk maslahat ibadah, maslahat agama, maka inilah kendaraan untuk ALLOH. Tapi kalau sekedar untuk pamer, ria, ujub, maka inilah kendaraan untuk setan. Sedangkan kendaraan untuk dirinya sendiri, misakan kuda dipelihara, dikembangbiakan, dipakai tanpa niat, maka inilah kendaran untuk diri sendiri.
Pastikan bahwa jikalau kita membeli kendaraan, niat kita tiada lain hanyalah karena ALLOH. Karenanya bermohon saja kepada ALLOH, "Ya ALLOH saya butuh kendaraan yang layak, yang bisa meringankan untuk menuntut ilmu, yang bisa meringankan untuk berbuat amal, yang bisa meringankan dalam menjaga amanah". Subhanallah bagi orang yang telah meniatkan seperti ini, maka, bensinnya, tempat duduknya, shockbreaker-nya, dan semuanya dari kendaraan itu ada dalam timbangan kebaikan, insya ALLOH. Sebaliknya jika digunakan untuk maksiyat, maka kita juga yang akan menanggungnya.
Kedahsyatan lain dari seorang hamba yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal, walaupun sebenarnya belum menyempurnakan amalnya, bahkan belum mengamalkanya. Inilah istimewanya amalan orang yang ikhlas. Suatu saat hati sudah meniatkan mau bangun malam untuk tahajud, "Ya ALLOH saya ingin tahajud, bangunkan jam 03. 30 ya ALLOH". Weker pun diputar, istri diberi tahu, "Mah, kalau mamah bangun duluan, bangunkan Papah. Jam setengah empat kita akan tahajud. Ya ALLOH saya ingin bisa bersujud kepadamu di waktu ijabahnya doa". Berdoa dan tidurlah ia dengan tekad bulat akan bangun tahajud.
Sayangnya, ketika terbangun ternyata sudah azan subuh. Bagi hamba yang ikhlas, justru dia akan gembira bercampur sedih. Sedih karena tidak kebagian shalat tahajud dan gembira karena ia masih kebagian pahalanya. Bagi orang yang sudah berniat untuk tahajud dan tidak dibangunkan oleh ALOH, maka kalau ia sudah bertekad, ALLOH pasti akan memberikan pahalanya. Mungkin ALLOH tahu, hari-hari yang kita lalui akan menguras banyak tenaga. ALLOH Mahatahu apa yang akan terjadi, ALLOH juga Mahatahu bahwa kita mungkin telah defisit energi karena kesibukan kita terlalu banyak. Hanya ALLOH-lah yang menidurkan kita dengan pulas.
Sungguh apapun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap bermakna, akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapatkan balasan pahala yang setimpal. Subhanallah
Minggu, 19 Oktober 2008
AMAL YANG DITERIMA ALLAH
Syariah Publications. Lala (bukan nama sebenarnya), mahasiswi yang cantik, ramah, dan supel. Ia selalu berpenampilan modis dan seksi. Banyak mahasiswa yang jatuh cinta kepadanya. Tiba-tiba, pada hari itu terjadi perubahan yang sangat mengejutkan seluruh teman-teman dan warga kampusnya. Lala menanggalkan semua baju-baju seksinya. Sebagai gantinya, ia memakai baju yang menutup rapat seluruh auratnya. Ia tampil kalem. Kampus pun menjadi geger. “Lala berjilbab”, begitu ucapan orang-orang yang melihatnya. Tidak diketahui, berapa banyak mahasiswa yang kecewa karena tidak lagi mempunyai kesempatan melihat body Lala yang seksi. Orang-orang terkejut, namun tidak semua orang mengetahui alasan Lala mengubah penampilannya itu. Selama satu minggu itu, Lala menjadi bahan pertanyaan warga kampus yang terheran-heran dengan perubahan sikapnya.
Bukan Lala jika tidak membuat geger. Hari ini, tepat satu minggu setelah ia berkerudung. Ia mendadak membuat sensasi lagi. Ia tanggalkan baju muslimahnya. Ia ganti dengan baju-bajunya yang seksi. Lagi-lagi, warga kampus dibuat bingung dengan ulahnya.
Selidik punya selidik, ternyata ada alasan dibalik kejadian ini. Lala memutuskan memakai kerudung karena simpati pada seorang muslimah yang berjilbab. Dalam pandangannya, wanita yang berjilbab itu tampak anggun, tenang, dan nyaman dipandang. Terpanggillah hati Lala untuk mengikuti jejak mulia wanita itu. Tanpa berpikir panjang, ia segera membeli kerudung dan mencari pakaian yang agak longgar. Ucapan selamat pun disampaikan kepadanya.
Lantas, mengapa ia melepas kembali kerudungnya selang seminggu kemudian? Ternyata, Lala tidak mendapatkan hal yang ia kira. Ia tidak mendapatkan ketenangan dan rasa aman, tetapi justru kalimat negatif yang diterimanya. Banyak orang mengatakan kalau Lala kelihatan tua dengan baju muslimah itu. Lala lebih cantik jika seperti dulu, menampilkan rambut indahnya yang hitam panjang. Bahkan, ada orang yang mengatakan Lala kuno dan tidak gaul. Lala tidak tahan mendengar cemoohan itu. Pendiriannya menjadi goyah. Akhirnya, ia tanggalkan baju muslimahnya.
Kejadian di atas terjadi bertahun-tahun yang lalu, ketika jilbab belum populer, khususnya di kampus yang diceritakan tersebut. Pada masa itu, jilbab masih dianggap langka dan aneh.
Dari peristiwa di atas, ada pelajaran yang bisa kita ambil. Perbuatan seseorang seharusnya selalu dikaitkan dengan dua hal. Dua hal ini harus ada agar perbuatan seseorang menjadi ihsanul amal (perbuatan baik) sehingga berpahala dan diterima Allah SWT. Dua hal tersebut adalah :
Pertama, niat yang lurus. Innamal a’malu binniyat. Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya (Al Hadis). Semua perbuatan kita niatkan itu hanya karena Allah, hanya mengharapkan keridloanNya. Bukan karena ingin dipuji manusia atau sekedar mengikuti mode. Berbeda niat, berbeda pula hasilnya. Apabila niat Lala lurus karena Allah, tentu ia akan lebih tegar walaupun dicemooh. Akan tetapi, karena niatnya adalah karena ingin anggun, maka ketika keanggunan itu tidak dikatakan oleh orang lain, ia langsung goyah. Kalau saja Lala niatkan berjilbab itu ikhlas karena Allah semata-mata untuk mendapatkan ridoNya maka Lala pasti kuat menghadapi semua ketidaknyamanan yang dia dapatkan selama berjilbab. Bukankah Allah telah berjanji pada hambaNya… “Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, nescaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu dalam suatu kaum, nescaya Aku juga akan mengingatinya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, nescaya Aku akan datang kepadanya dalam keadaan berlari-lari “.
Allah pasti akan menolong hambaNya yang telah rela dan ikhlas menjalankan syariatNya InsyaAllah jika kita berbuat diniatkan ikhlas karena Allah, tidak mengharap pujian manusia maka kita akan kuat menghadapi setiap masalah yang dihadapi dan menganggap masalah itu sebagai ujian hidup yang harus dilalui dengan sabar.
Kedua, cara yang benar. Niat yang benar harus disertai cara melakukan perbuatan secara benar. Maksud benar adalah sesuai syariat Allah. Niat benar tetapi cara salah, maka amal itu pasti ditolak Allah. Misalnya, ada seorang ayah yang ingin menafkahi keluarganya. Ini niat yang benar. Akan tetapi, jika ia mencari nafkah dengan berjudi, ia akan berdosa. Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang melakukan sesuatu amal yang bukan perintah kami(Allah dan RasulNya), maka amalan itu tertolak.” Hadis riwayat Muslim
Dengan demikian, ketika hendak melakukan sesuatu, seharusnya kita mencari tahu terlebih dahulu apakah perbuatan yang akan kita lakukan itu sesuai syariat Islam. Proses mancari tahu ini bukan perkara yang sederhana. Dibutuhkan pengetahuan tentang ajaran agama Islam. Oleh karena itu, kita setiap muslim harus meluangkan waktunya untuk belajar tsaqofah Islam (ilmu pengetahuan Islam). Berbagai cara dan sarana bisa dipakai. Misalnya, membaca buku, majalah, situs internet (misalnya Syariah Publications – red), mendengarkan ceramah agama di radio, televisi, mengikuti forum pengajian, dan lain sebagainya. Sesibuk apapun seseorang, ia harus belajar Islam. InsyaAllah dengan bekal ilmu agama yang kita miliki, kita tidak akan tersesat dalam bertindak…
Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi niat dan perbuatan kita. Amin.
Wallâhu a’lam bi ash-shawâb
*Penulis pernah kuliah di Yogyakarta. Lulus awal tahun 2000. Sekarang menemani suaminya yang menempuh kuliah S3 di Tokyo, Jepang.